Tiba-tiba aku seolah disusup sosok berbeda. Entah dari mana datangnya. Mungkin sudah dimulai sejak aku menjajakkan kembali kaki di bibir puncak Gunung Gede, setelah mendaki sekitar empat jam dari Taman Cibodas. Pendakian Gede, untuk kesekian kali, ya aku tidak pernah menghitungnya, rasanya sudah puluhan kali. Argh, aku selalu mencintai Gunung Gede. Selalu. Kawah berasap belerang menganga lebar di bawah jurang yang dalam. Dinding tebing kokoh dan sunyi yang mengelilinginya. Panorama Gunung Pangrango yang menjulang cantik di seberang. Dan terutama, argh, lembah Alun-alun Surya Kencana. Padang edelweisnya. Harum rumputnya. Nyanyian kerikilnya. Tabir kabutnya. Pelukan dinginnya. Langit “milky way”-nya.

Ke sanalah aku turun, dari puncak menuju alun-alun. Sosok yang membawaku berlari, melompat, meliuk-liuk, bermanuver, kiri dan kanan, dengan bantuan pohon dan batangnya yang seolah diciptakan memang untuk pegangan saat turun ke lembah itu. Aku bahkan tidak ingat apakah dulu -waktu mahasiswa waktu masih giat sebagai pecinta alam atau entah kapan terakhir- mampu berlari turun sekuat itu, selincah itu. Hitungan belasan menit, dan aku telah duduk beristirahat di sebongkah batu, di alun-alun. Menikmati kemegahan “amfiteater” Surya Kencana, hamparan sejauh mata memandang dengan bangunan tenda warna warni di sana sini, dan para pendaki yang lalu lalang. Tidak, aku tidak berniat berlari di alun-alun, di atas permadani alam luas datar itu. “That’s a real pity.” Aku ingin berjalan perlahan, ingin tenggelam dalam kemewahan “me-time”, sepanjang sisi barat hingga sisi timur.

Begitulah, ketika mencapai sisi timur, saat akan turun melalui jalur Gunung Putri, sosok berbeda seolah kembali merasukku. Tanpa berhenti, satu jam lebih, melintasi pos-pos Simpang Maleber, Buntut Lutung, Legok Leunca, hingga mencapai Pos 1. Berlari, melompat, meliuk-liuk, bermanuver, kiri dan kanan, masih dengan bantuan pohon dan batangnya, sesekali berayun, membiarkan gravitasi dan gaya fisika mengambil alih. Aku sepertinya hendak terbang. Terbang, lalu mendarat mulus di atas tanah lunak. Atau mungkin sebenarnya aku sedang menari. Tarian seorang pendaki-pelari. Tarian perpaduan raga dan jiwa. Diiringi simfoni agung hening hutan, lebur dalam dekapan hangat alam, luluh dalam tatapan renjana semesta.

Gunung Gede, 15 Juni 2025

PS: Tulisan ini sebagai kenang-kenangan, untuk kubaca satu saat nanti, saat aku tidak lagi mampu berlari turun, atau mungkin saat aku tidak lagi mampu berjalan naik.

NH

Nicky Hogan's avatar
Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.